LEARNING OF CREATIVITY: EINSTEIN, MARTABAK MINI, OR THE DEAD FISH
(BELAJAR KREATIVITAS: EINSTEIN, MARTABAK MINI, ATAU IKAN YANG MATI)
Tahukah Anda, manusia terjenius abad ke-20, Albert Einstein menemukan rumus terkenalnya karena perbedaan pandangannya terhadap konsep Ether dari pemikir pendahulunya. Selain itu, rumus itu ia peroleh dari konsep gerak yang Transformasi Lorentz. Atau teori terkenalnya, Teori Relativitas, yang banyak mengubah pandangan manusia tentang ruang dan waktu. Teori ini sebenarnya bukan sesuatu yang murni 100 persen baru, karena pada zaman Newton, konsep gerak relatif telah ada. Bedanya, Newton masih menggunakan geometri Euclidean, sedangkan pada masa Einstein telah berkembang geometri baru yaitu Geometri Riemann dan Boltzansky. Selain itu, perbedaan keduanya terletak pada gerak Newton yang relatif terhadap bintang, sedangkan Einstein telah mengembangkan konsep relatif terhadap cahaya. Artinya, Einstein yang terkenal jenius dan kreatif bahkan tidak menemukan ide kreatifnya dengan cara yang luar biasa. Ia hanya berpikir dengan memulai dengan yang ada, memandangnya dengan berbeda, kemudian menghasilkan suatu kreasi.
***********************************************************
Tulisan ini sebenarnya terjadi karena tugas yang diberikan oleh dosen kepada saya. Beliau memberikan tugas untuk menuliskan orang–orang yang disekitar anda yang menurut anda adalah sosok yang kreatif. Sebelumnya waktu yang diberikan selama satu minggu. Namun entah mengapa selama seminggu tersebut saya rasanya sulit setengah mati untuk memutuskan siapa sosok kreatif yang hendak dijadikan objek tulisan saya.
Seminggu berlalu, dan ketikan pada keyboard laptoppun masih juga belum terdengar. Hingga suatu hari saya hendak berangkat ke kampus berhubung ada keperluan administrasi buku perpustakaan, kira-kira 10 meter keluar dari gerbang kos, saya melihat gerobak yang mangkal di dekat kosan saya. Hal yang pertama kali muncul dalam benak saya, gerobak itu milik penjual nasi uduk, atau batagor, bubur ayam, atau apalah yang biasa dagang di depan kosan saya. Namun saya perhatikan lebih lanjut, ternyata beda dari yang biasanya. Dan setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata di depan gerobak tersebut terdapat tulisan “martabak mini mulai dari 1000”.
Kalau martabak, sepertinya tidak ada yang spesial dari penjual tersebut. Namun ada yang beda dari martabak biasanya, ia dimasak kecil-kecil dan tersedia dengan harga Rp 1.000,00 per potongnya. Wah, ini sosok yang kreatif yang saya nanti-nantikan. Mantap! Teriak hati kecil saya dengan logat khas batak.
Oh, iya. Saya baru ingat beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang membeli martabak coklat kesukaan saya, saya kadang mengeluhkan harganya yang sulit dijangkau. Saat itu benak saya berpikir, bagaimana ya supaya martabak ini dijual dengan murah, namun saya bisa menikmatinya tanpa menunggu kantong menebal dari kiraiman orang tua. Nah ini dia, si penjual martabak mini ini telah mewujudkannya. Mengapa penjual martabak ini seorang yang kreatif? Mungkin pertanyaan ini muncul dalam benak anda. Menurut saya, ia melakukan suatu terobosan dalam menjual martabaknya. Martabak yang biasaya minimal merogoh kocek Rp 10.000 untuk menyantapnya, kini muncul dalam kemasan kecil yang tersedia dengan harga cukup terjangkau (bagi anak kos seperti saya). Bagi saya, ia telah menunjukkan kreativitas yang melahirkan inovasi.
Selanjutnya kita akan memasuki alam kreativitas..
***********************************************************
Apa sebenarnya kemudian yang dimaksud dengan kreatif tersebut?
Bagi saya, kreatif yang berasal dari kata kreasi, adalah kata yang banyak menginspirasi setiap sendi kehidupan manusia. Segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari suatu proses kreativitas. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama di alam pikiran dan kemudian diwujudkan dalam alam kenyataan.
Arti kreativitas dari wikipedia (dalam bahasa inggris, ya): Creativity refers to the phenomenon whereby a person creates something new (a product, a solution, a work of art etc.) that has some kind of value. Kalau diartikan: kreativitas adalah suatu ungkapan yang menunjukkan fenomena dimana seseorang menciptakan sesuatu hal yang baru (misalnya produk, solusi, karya seni) yang memiliki nilai tertentu. Lebih jauh lagi wikipedia menjelaskan: What counts as "new" may be in reference to the individual creator, or to the society or domain within which the novelty occurs and what counts as "valuable" is similarly defined in a variety of ways.
Begitu juga dengan penemuan penjual martabak mini tersebut, tentu mungkin ada yang berpendapat “itu mah, biasa saja”. Tetapi bagi saya itu merupakan suatu kreativitas yang berasal dari kemampuan membaca situasi dalam pasar. Toh, buktinya belum ada atau merupakan hal yang baru bagi masyarakat.
Lantas apakah anda ingin memiliki kreativitas yang sama atau bahkan lebih kreatif lagi dibanding penjual martabak mini? Bila jawaban anda adalah “ya”, anda sama dengan saya, yaitu ingin memiliki kreativitas dalam menjalani hidup.
Salah satu mitos yang sering ditemukan dalam dalam pikiran banyak orang adalah bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki intelegensia tinggi. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, meski kreativitas umumnya memiliki korelasi dengan intelegensi seseorang.
Mengacu pada perkataan Madhukar Shukla, pengarang buku The Creative Muse: Story of Creativity and Innovation, yang berkata "Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam menghalau aral (penghalang) kemampuan kreativitas.". Artinya setiap manusia dilahirkan memiliki potensi kreativitas.
Lantas apakah yang menjadi penghalang kreativitas tersebut? orang yang sama juga memaparkan terdapat dua penghalang utama berpikir kreatif, yaitu yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan, kemudian penghalang yang berasal dari luar diri seseorang seperti organisasi, sosial, dan kepemimpinan. So, untuk memiliki kreativitas tinggi, anda harus melewati batas-batas penghalang tersebut.
Namun bagaimana caranya agar kita menjadi seorang kreatif? Nah, selain menghilangkan penghalang-penghalang tersebut, yang berarti melawan arus atau get out of the box, anda juga harus menjadi seorang anak kecil yang serba ingin tahu. Coba perhatikan anak kecil. Ia akan senantiasa bermain, dan mencoba memperhatikan segala sesuatu. So, the key is enjoy, playful, and curious. Namun untuk yang ini, satu nasihat saya, jangan persis kaya anak kecil, nanti orang mengira anda orang aneh!!
Dalam hal ini saya memiliki contoh, yaitu paman saya. Dia orangnya periang, suka bercanda, senang hal-hal yang baru. Dia tidak senang segala sesuatu itu apa adanya, melainkan mencobanya dengan berbagai ubahan. Alhasil segala sesuatu tampak meriah dan menyenangkan. Apabila menemui hal-hal yang baru, ia tidak malu untuk bertanya, bahkan melakukan “riset lapangan” di tempat. Memang ia memiliki sedikit keautisan, yaitu rasa ingin tahunya, tetapi hal itu justru membuat ia tahu banyak hal dan kreatif.
Akhir kata, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah untuk menjadi seorang yang kreatif, anda harus berpikir out of the box dan mempertanyakan kebiasaan dan berani keluar dari jalur. Silahkan anda pilih, layaknya Einstein, Penjual martabak mini, atau the dead fish seperti perkataan ini “don’t forget that only dead fish swim with the stream”(Malcolm Muggeridge). Thanx.

suka sama quote ini:
ReplyDeletedon’t forget that only dead fish swim with the stream
thanx, aang...
ReplyDeleteternyata kreatifitas gak berhubungan dengan pendidikan ya? Dari Einstein sampai penjual martabak. Jadi tunggu apalagi ? KREATIFLAH !
ReplyDelete