Pages

Wednesday, December 28, 2011

Waktunya telah tiba, bahwa Tuhan akan menyatakan diri-Nya!

Memasuki tahun 2012, mari kita tanamkan di hati kita, bahwa Tuhan semakin dekat dan kini adalah waktu-Nya untuk menyatakan diri kepada kita.
Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.
Yesaya 43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.. (ganti nama Yakub dan Israel dengan nama kita sendiri)

Oleh sebab itu,sekali lagi, JANGANLAH TAKUT. Apapun yang menjadi permasalahan kita, JANGANLAH BIMBANG. Semuanya itu bagaikan gelombang di lautan, yang akhirnya membentuk kita menjadi pelaut tangguh. Sebab tanpa gelombang, tidak akan ada pelaut tangguh.
Kenakanlah persenjataan dan lapisi kapal kita dengan baja tempaan yaitu Firman Allah, sehingga kita selamat ketika ada perompak iblis serta gelombang dan karam permasalahan hidup. Janganlah bimbang, karena Yesus Kristus menjadi nahkoda kita di dalam Roh Kudus. Sebab bukan kita lagi, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam kita. Kita akan menang, sebab Allah baik.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Mari kita jadikan firman Allah bukan hanya sebagai kata-kata indah, tetapi mari kita ukir di loh hati kita sehingga ia menjadi kuasa yang mengubahkan hidup kita.
Selamat memasuki tahun baru 2012, tahun penuh kemenangan, Tuhan Yesus Memberkati. Amin!

Monday, June 20, 2011

my creative tools

    
LEARNING OF CREATIVITY: EINSTEIN, MARTABAK MINI, OR THE DEAD FISH
(BELAJAR KREATIVITAS: EINSTEIN, MARTABAK MINI, ATAU IKAN YANG MATI)

        Tahukah Anda, manusia terjenius abad  ke-20, Albert Einstein menemukan rumus terkenalnya karena perbedaan pandangannya terhadap konsep Ether dari pemikir pendahulunya. Selain itu, rumus itu ia peroleh dari konsep gerak yang Transformasi Lorentz. Atau teori terkenalnya, Teori Relativitas, yang banyak mengubah pandangan manusia tentang ruang dan waktu. Teori ini sebenarnya bukan sesuatu yang murni 100 persen baru, karena pada zaman Newton, konsep gerak relatif telah ada. Bedanya, Newton masih menggunakan geometri Euclidean, sedangkan pada masa Einstein telah berkembang geometri baru yaitu Geometri Riemann dan Boltzansky. Selain itu, perbedaan keduanya terletak pada gerak Newton yang relatif terhadap bintang, sedangkan Einstein telah mengembangkan konsep relatif terhadap cahaya. Artinya, Einstein yang terkenal jenius dan kreatif bahkan tidak menemukan ide kreatifnya dengan cara yang luar biasa. Ia hanya berpikir dengan memulai dengan yang ada, memandangnya dengan berbeda, kemudian menghasilkan suatu kreasi.
***********************************************************
      Tulisan ini sebenarnya terjadi karena tugas yang diberikan oleh dosen kepada saya. Beliau memberikan tugas untuk menuliskan orang–orang yang disekitar anda yang menurut anda adalah sosok yang kreatif. Sebelumnya waktu yang diberikan selama satu minggu. Namun entah mengapa selama seminggu tersebut saya rasanya sulit setengah mati untuk memutuskan siapa sosok kreatif yang hendak dijadikan objek tulisan saya.
       Seminggu berlalu, dan ketikan pada keyboard laptoppun masih juga belum terdengar. Hingga suatu hari saya hendak berangkat ke kampus berhubung ada keperluan administrasi buku perpustakaan, kira-kira 10 meter keluar dari gerbang kos, saya melihat gerobak yang mangkal di dekat kosan saya. Hal yang pertama kali muncul dalam benak saya, gerobak itu milik penjual nasi uduk, atau batagor, bubur ayam, atau apalah yang biasa dagang di depan kosan saya. Namun saya perhatikan lebih lanjut, ternyata beda dari yang biasanya. Dan setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata di depan gerobak tersebut terdapat tulisan “martabak mini mulai dari 1000”

      Kalau martabak, sepertinya tidak ada yang spesial dari penjual tersebut. Namun ada yang beda dari martabak biasanya, ia dimasak kecil-kecil dan tersedia dengan harga Rp 1.000,00 per potongnya. Wah, ini sosok yang kreatif yang saya nanti-nantikan. Mantap! Teriak hati kecil saya dengan logat khas batak.

      Oh, iya. Saya baru ingat beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang membeli martabak coklat kesukaan saya, saya kadang mengeluhkan harganya yang sulit dijangkau. Saat itu benak saya berpikir, bagaimana ya supaya martabak ini dijual dengan murah, namun saya bisa menikmatinya tanpa menunggu kantong menebal dari kiraiman orang tua. Nah ini dia, si penjual martabak mini ini telah mewujudkannya. Mengapa penjual martabak ini seorang yang kreatif? Mungkin pertanyaan ini muncul dalam benak anda. Menurut saya, ia melakukan suatu terobosan dalam menjual martabaknya. Martabak yang biasaya minimal merogoh kocek Rp 10.000 untuk menyantapnya, kini muncul dalam kemasan kecil yang tersedia dengan harga cukup terjangkau (bagi anak kos seperti saya). Bagi saya, ia telah menunjukkan kreativitas yang melahirkan inovasi.
Selanjutnya kita akan memasuki alam kreativitas..
***********************************************************


       Apa sebenarnya kemudian yang dimaksud dengan kreatif tersebut?

     Bagi saya, kreatif yang berasal dari kata kreasi, adalah kata yang banyak menginspirasi setiap sendi kehidupan manusia. Segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari suatu proses kreativitas. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama di alam pikiran dan kemudian diwujudkan dalam alam kenyataan.
      Arti kreativitas dari wikipedia (dalam bahasa inggris, ya): Creativity refers to the phenomenon whereby a person creates something new (a product, a solution, a work of art etc.) that has some kind of value. Kalau diartikan: kreativitas adalah suatu ungkapan yang menunjukkan fenomena dimana seseorang menciptakan sesuatu hal yang baru (misalnya produk, solusi, karya seni) yang memiliki nilai tertentu. Lebih jauh lagi wikipedia menjelaskan: What counts as "new" may be in reference to the individual creator, or to the society or domain within which the novelty occurs and what counts as "valuable" is similarly defined in a variety of ways.
      Begitu juga dengan penemuan penjual martabak mini tersebut, tentu mungkin ada yang berpendapat “itu mah, biasa saja”. Tetapi bagi saya itu merupakan suatu kreativitas yang berasal dari kemampuan membaca situasi dalam pasar. Toh, buktinya belum ada atau merupakan hal yang baru bagi masyarakat.

      Lantas apakah anda ingin memiliki kreativitas yang sama atau bahkan lebih kreatif lagi dibanding penjual martabak mini? Bila jawaban anda adalah “ya”, anda sama dengan saya, yaitu ingin memiliki kreativitas dalam menjalani hidup.
       Salah satu mitos yang sering ditemukan dalam dalam pikiran banyak orang adalah bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki intelegensia tinggi. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, meski kreativitas umumnya memiliki korelasi dengan intelegensi seseorang.

       Mengacu pada perkataan Madhukar Shukla, pengarang buku The Creative Muse: Story of Creativity and Innovation, yang berkata "Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam menghalau aral (penghalang) kemampuan kreativitas.". Artinya setiap manusia dilahirkan memiliki potensi kreativitas.
     Lantas apakah yang menjadi penghalang kreativitas tersebut? orang yang sama juga memaparkan terdapat dua penghalang utama berpikir kreatif, yaitu yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan, kemudian penghalang yang berasal dari luar diri seseorang seperti organisasi, sosial, dan kepemimpinan. So, untuk memiliki kreativitas tinggi, anda harus melewati batas-batas penghalang tersebut.

       Namun bagaimana caranya agar kita menjadi seorang kreatif? Nah, selain menghilangkan penghalang-penghalang tersebut, yang berarti melawan arus atau get out of the box, anda juga harus menjadi seorang anak kecil yang serba ingin tahu. Coba perhatikan anak kecil. Ia akan senantiasa bermain, dan mencoba memperhatikan segala sesuatu. So, the key is enjoy, playful, and curious. Namun untuk yang ini, satu nasihat saya, jangan persis kaya anak kecil, nanti orang mengira anda orang aneh!! 

      Dalam hal ini saya memiliki contoh, yaitu paman saya. Dia orangnya periang, suka bercanda, senang hal-hal yang baru. Dia tidak senang segala sesuatu itu apa adanya, melainkan mencobanya dengan berbagai ubahan. Alhasil segala sesuatu tampak meriah dan menyenangkan. Apabila menemui hal-hal yang baru, ia tidak malu untuk bertanya, bahkan melakukan “riset lapangan” di tempat. Memang ia memiliki sedikit keautisan, yaitu rasa ingin tahunya, tetapi hal itu justru membuat ia tahu banyak hal dan kreatif.

      Akhir kata, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah untuk menjadi seorang yang kreatif, anda harus berpikir out of the box dan mempertanyakan kebiasaan dan berani keluar dari jalur. Silahkan anda pilih, layaknya Einstein, Penjual martabak mini, atau the dead fish seperti perkataan ini “don’t forget that only dead fish swim with the stream”(Malcolm Muggeridge). Thanx.

Wednesday, April 6, 2011

Dana Bail-out Bank Century, dalam Kacamata Hukum Administrasi Keuangan Negara


A.  Deskripsi

Kasus Bank Century berawal dari pemberian dana talangan sebesar Rp6,7 triliun oleh KSSK kepada Bank Century untuk menyelamatkan sektor keuangan nasional dari ancaman kehancuran berdampak sistemik. Yang dimaksud sistemik adalah hilangnya kepercayaan publik terhadap perbankan dan sistem keuangan secara keseluruhan sehingga membuat bank-bank kolaps. Bank Century mengalami kesulitan dalam hal likuiditas sehingga apabila tidak segera diselesaikan akan menimbulkan masalah terhadap bank-bank lain.
Kebijakan tersebut, berdasarkan audit BPK dinilai tidak wajar dan transaksi-transaksi yang terjadi dalam Bank Century banyak yang dicurigai..Oleh karena itu, DPR mengajukan hak angket untuk meminta penjelasan kepada pemerintah yang berkuasa saat itu mengenai pemberian dana talangan tersebut.

B.  Masalah

Kasus ini menimbulkan bermacam-macam masalah baru yang menjalar ke intansi-instansi lain seperti KPK, POLRI, hingga kementerian keuangan. Penelaahan dapat dilakukan melalui aspek Hukum Pidana/Tindak Pidana korupsi, Hukum Administrasi Negara, maupun secara politik(Tata Negara), namun dalam tulisan ini hanya dibatasi pada keabsahan kebijakan tersebut dalam perspektif Hukum Administrasi Keuangan Negara.

C.  Analisis Masalah

Kronologi kasus Bank Century:
2003 :  Bank CIC diketahui didera masalah yang diindikasikan dengan adanya surat-surat berharga valuta asing sekitar Rp2 triliun yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang, berbunga rendah, dan sulit dijual. BI menyarankan merger unutk mengatasi masalah ketidakberesan bank ini.
2004 :  Bank CIC merger bersama Bank Danpac dan bank Pikko yang kemudian berganti nama menjadi Bank Century. Surat-surat berharga terus bercokol di neraca bank hasil merger ini. BI menginstruksikan untuk dijual, tapi tidak dilakukan oleh pemegang saham. Pemegang saham membuat perjanjian untuk menjadikan surat-surat berharga ini deposito di Bank Dresdner, Swiss, yang belakangan ternyata sulit ditagih.
2005 :  BI mendeteksi surat-surat berharga valas di Bank Century sebesar US$ 210 juta.
2008 :  30 Oktober dan 3 November, sebanyak US$56 juta surat berharga valas jatuh tempo dan gagal dibayar. Bank Century kesulitan liquiditas. Posisi CAR Bank Century per 31 Oktober minus 3,53%.
2008 :  13 November, Bank Century gagal kliring karena gagal menyediakan dana (prefund).
            17 November, Antaboga Delta Sekuritas yang dimiliki Robert Tantular mulai default membayar produk discreationary fund yang dijual Bank Century sejak akhir 2007.
            20 November, BI mengirim surat kepada Menteri Keuangan yang menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan mengusulkan langkah penyelamatan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Di hari yang sama Komite Stabilitas Sektor Keuangan(KSSK) yang beranggotakan BI, Menteri Keuangan, dan LPS melakukan rapat.
            21 November, bank Century diambil alih oleh LPS berdasarkan keputusan KSSK dengan surat nomor 04.KSSK.03/2008. Robert Tantular, salah satu pemegang saham Bank Century, bersama tujuh pengurus lainnya dicekal.
             
Selanjutnya, LPS tercatat empat kali memberikan dana yang totalnya sekitar 6,7 triliun. Tanggal 3 Juli 2009, DPR kemudian menuntut pemberian dana talangan tersebut.
Memang kasus ini sarat dengan motif-motif tersembunyi dari pihak-pihak tertentu dan  unsure kepentingan politik. Keputusan DPR untuk meminta hak angket patut dihormati mengingat posisi DPR sebagai badan Legislatif, namun tetap saja perlu diketengahkan bahwa permintaan Hak Angket tersebut harus sesuai tujuan hak angket oleh Konstitusi yaitu untuk menyeimbangkan pemerintahan, bukan untuk kepentingan-kepentingan politik.
Problematika utama kasus Bank Century ini adalah keabsahan pemberian dana talangan sebesar 6,7 triliun. Sementara itu muncul beberapa tanggapan beberapa pejabat mengenai kasus ini, antara lain bahwa pemberian dana talangan merupakan bukan uang negara melainkan dana cadangan penjaminan hasil dari pembayaran premi perbankan, di pihak lain mengatakan dana tersebut merupakan uang Negara. Kemudian muncul pernyataan presiden bahwa kebijakan tidak bisa dikriminalisasi.
Kasus Bank Century  sebenarnya persoalan yang rumit dan multiperspektif karena melibatkan tak saja aspek legalitas, tetapi juga aspek diskresi kebijakan pemerintah dan aspek politik.
Pada dasarnya setiap pejabat diberi wewenang yang bersifat diskresional (discretional power) oleh Undang-Undang yakni dapat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri. Esensi dasar kewenangan diskresi dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah menghindari kekosongan pemerintah, menyelamatkan kepentingan negara dan kepentingan umum. Prinsip dasarnya adalah tidak melanggar tujuan konstitusional Negara dan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Untuk mengetahui apakah pejabat memang diberikan wewenang sejenis ini dapat dilihat dari Undang-Undang yang memberikan ia kuasa ditandai dengan kata-kata boleh, bisa, atau seharusnya.
Oleh sebab itu perlu ditcermati lebih lanjut apakah BI dan Menkeu yang tergabung dalam KSSK memang diberi wewenang yang bersifat diskresi dalam Perppu No. 4/2008 tentang Jaring Sistem Pengaman Keuangan.
Pokok hal yang kedua adalah bagaimana kewenangan diskresi digunakan Menkeu dan Gubernur BI waktu itu. Dalam hal pengucuran dana, pertimbangan professional yang harus dipergunakan adalah apa yang dimaksud dengan berdampak sistemik sebagaimana yang dimaksud dalam Perppu No. 4/2008, yaitu “suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu bank, LKBB, dan/atau gejolak pasar keuangan sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap system keuangan dan perekonomian nasional”. Dengan demikian KSSK dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat dari BI yang dijamin pemerintah kepada bank yang kesulitan likuiditas.

D.  Kesimpulan

Berdampak sistemik dalam UU no 4/2008 merupakan ruang lingkup kewenangan diskresi yang harus dijawab dengan pertimbangan professional dalam ranah ekonomi moneter dan memperhatikan batas-batas hukum yang memberikan kewenangan diskresi. Jawaban atas hal tersebut harus diberikan oleh pakar yang memiliki pemahaman professional yang memadai mengenai kondisi sistemik dan memiliki independensi terhadap konflik kepentingan politik.
Keputusan Menkeu dan BI mengenai kondisi berdampak sistemik harus bisa dibuktikan berada dalam ruang lingkup kewenangan diskresi dan harus dapat dipertanggungjawabkan secara akuntabilitas dan professional. Dalam memahami letak permasalahan, DPR perlu mencermati hal ini dan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan politik tetapi juga esensi dari pengambilan keputusan atau kebijakan itu sendiri.


Daftar referensi:
1.    Kompas
3.    www.unikdananeh.wordpress.com

ME, MY LIFE, AND THE FUTURE



At first, let me introduce myself. My name is Riki Ronaldo Siringo-ringo. I am studying at Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). I’m at sixth Semester right now, it can be said that it is an advance time for graduating from college. Studying at STAN is a great gift for me. You know, I’m not a rich one who can go to the University what I want. Beside that, approximately a hundred thousand students fought over for about two thousands chairs this government  scholarship.
On that account, I really want my education in STAN to be successful. Oh, I almost forget. I graduated from SHC in Science Major. My Basic knoweledge background encouraged me to deepen it. So, in my SHC time, I really wanted to win Science and Mathematics Olymphiad. Unhappily, it never gone well.
Now, I’m in the same major with the same framework to science that is use analitical approach in studying, accountancy. Because I always keen on what I learn, it makes me to be interested in becoming an accountant. Moreover after I have studied in a while, that desirability the greater becomes. Why?  I found that accounting was one of field that hard to be studied for most of people. It is like Science, Technique, or Architecture. Because of that, it challenges me to learn it deeply.
However, with each passing day, my motivation to be an accountant have been changed. In going through my life, as a university student, a society, or as an individual, I have found that so much inappropriation between expectation and reality. I found that there is someone who get what he eagers easily, whereas another one pawn his self-esteem even his life for a mouthful food. I have seen so much oddity. My soul cried loudly, asking questions: is there anyone who care about this country? Is there anyone who have lustrous heart and take care of this country responsibly? It asks me too. My answers is, me, who will disposed to serve with all what I have and give the best in full of responsibility to this country in order to take out it from back water and become a winner. So, I begin thinking to live not only for my individual ambition, but its impact to the people around me.
I think, my life goal orientation has been changed. But the tracks still going on, that I still have been educated in STAN that has a future liability to become a government employee, a public servant in State Financial Department, with the major of accounting. Become an accountant is the first choice, although not to be the main choice. I also be interested in Social Sciences, that is Economy, Laws, Politics, Financial, Management, Technology, and System Analyzes. With this passion, I start to struggle my life for giving contribution to this country.
At the heart of the matter, I want to be a person who can give contribution to encourage this country become a better one. In order to it works out, I have to be an expert at those field. My target is that I will become an expert at those field about twelve years, when at that time I will be 36 years old. I still have four years to recapitulate all the knowledge I have,  before I enter the intellectual productivity age. 
Bacause I am still in STAN with accounting major, the first step I have to do was acquire an accountant title. After I graduate from STAN, I’m at 23 years old. Because I have to work at least two years before take more education at the university (current rule), I will utilize it for enlarging my kowledge and softskills. After that, I expect  getting education at STAN again that is DIV. Another alternative if I cannot pass to it, I will study at another university, like UI or UGM.  My target is about four years for taking my Accountant title. I prefer to be a Managerial Accountant. After that, I planned studying abroad in America or England to get my magister title in Economic field. I always dream to have education in my favorite university like Harvard University, University of Barkeley, Oxford University or Cambridge University. I think four years was long enough to get that title. The rest time, I prepare it as a contingence time. In conclusion, I focus my knowledge at Financial and Economy so that in the future I can serve my country well by means of Financial Department. The other field like Laws, Politics, Technology, and Management can be learnt without a formal education or title.
That is what I dream and plan about my future life. I know that is need more buffetings to make it real. But all of that was facilities to achieve my main goal, waken this country from its sleeping dream. So that, if that plan cannot be achieved, there were a lot of way to achieve the final goal. The most possible is becoming a good government employee.
In current time, there is none who knows this dream, maybe some of friend of mine. But, I have faith and believe that it was an impact of support of my father, my brothers and sister, my family and my bestfriend. I’m so thankful about them.


                                                                                  Tangerang, April6th 2010.